WASHINGTON Pemerintahan baru Libya memburu harta mantan Pemimpin Libya Muammar Khadafi. Namun upaya itu tidak akan berjalan mudah karena aset Khadafi beserta keluarga tersebar di berbagai penjuru dunia.
Kalaupun bisa,mereka dipastikan akan menghadapi proses hukum yang panjang agar bisa mendapatkan semua harta itu. Sama seperti diktator lain, Saddam Hussein dari Irak dan Mobutu Sese Seko dari Republik Demokratik Kongo, Khadafi diduga menyimpan sebagian besar hartanya dengan banyak nama lain atau sejumlah rekening rahasia atau kotak deposit berisi uang,perhiasan, karya seni, serta koleksi lain yang berharga. Aset bisa pula berupa saham perusahaan tak langsung dan saham di bisnis dan properti dengan nama palsu atau dikontrol asosiasi yang dipercaya.
"Menemukan uang itu butuh forensik finansial yang sangat maju dan akan cukup sulit ditemukan," ujar Victor Comras, mantan pakar pencucian uang untuk PBB dan Departemen Luar Negeri Amerika Seikat (AS) kepada Reuters. Daniel Serwer dari Johns Hopkins University School of Advanced International Studies dan cendekiawan di Middle East Institute juga memprediksi Dewan Transisi Nasional (NTC) akan menemui kesulitan dalam mendapatkan kembali aset negara.
Menurut Powell, bagian tersulit dalam mengidentifikasi rekening bank Khadafi adalah namanya yang tidak mudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris,termasuk adanya ratusan cara untuk mengeja Khadafi. "Saya bisa jamin Anda, sekarang ada orang yang berusaha memprivatisasi apa pun yang sedang ada di bank sentral Libya, memprivatisasi tanah, kantor, dan mencuri komputer. Itu yang sedang terjadi," papar Serwer. Pada Februari lalu pemerintahan Barack Obama mengklaim telah membekukan USD30 miliar milik pemerintah Libya, bank sentral Libya, dan otoritas investasi Libya.
Kanada,Austria,Inggris dan negara lain juga membekukan aset rezim itu. Pemerintah Belanda membekukan sekitar USD4,5 miliar pada Maret lalu dan pada Agustus mengumumkan memberikan sekitar USD144 juta dari dana itu kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menyalurkan obat-obatan kepada rakyat Libya. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara lain juga sudah membekukan USD19 miliar aset yang diyakini dikontrol Khadafi atau asosiasinya.
Sebuah perkiraan menyebutkan, Khadafi mengontrol sekitar USD30 miliar aset di Amerika Serikat (AS) saja, plus induk perusahaan besar di Eropa dan Afrika Selatan. Tapi tampaknya jumlah kekayaan yang tersebar lebih banyak lagi.Pemimpin berusia 68 tahun itu diperkirakan telah menyebar dananya hampir ke seluruh penjuru dunia. Guardianmelaporkan, keluarga diktator itu kemungkinan memiliki dana miliaran dolar yang disembunyikan di rekeningrekening rahasia di bank-bank di Dubai, Asia Tenggara, dan Teluk Persia.
Sebagian besar harta itu didapatkan Khadafi dari hasil penjualan minyak negaranya. Profesor Tim Niblock, spesialis politik Timur Tengah di Universitas Exeter, mengidentifikasikan selisih beberapa miliar dolar tiap tahun antara jumlah pemasukan dari penjualan minyak dan pembelanjaan pemerintahselisih itu diduga masuk ke kantong Khadafi dan sembilan anaknya. Berdasarkan cadangan minyak negara dan laporan investasi di seluruh dunia, diperkirakan masih ada USD60 miliar yang belum ditelusuri di negara lain, termasuk Angola, Afrika Selatan, Uganda, negara- negara di Asia dan Amerika Latin.
Economist Intelligence Unit memperkirakan pendapatan ekspor minyak Libya pada 2010 mencapai USD45 miliar. Menurut badan intelijen AS, CIA, GDP negara itu pada tahun yang sama mencapai USD90,57 miliar. S ebagian besar investasi negara itu dijalankan Otoritas Investasi Libya (LIA), yang didirikan pada 2006 untuk membelanjakan uang negara, yang punya aset bernilai sekitar USD70 miliar. Menurut WikiLeaks, dari jumlah itu,USD32 miliar di antaranya dikendalikan Khadafi.
Global Financial Integrity, perusahaan riset nonprofit di Washington DC,memaparkan, menurut data Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sekitar USD33 miliar uang Libya hilang dari 20012009. Direktur Komunikasi Global Financial Integrity memaparkan, Libya memiliki data "tersedikit" dari 162 negara yang melaporkan dana finansial ke IMF dan Bank Dunia. "Ini semua adalah kepingan puzzle,"ujarnya,"tidak ada yang bisa mengatakan apa mereka punya semua perkiraan itu.
Kalian bekerja dengan jurang data yang besar sekali." Seberapa besar harta Khadafi dan keluarganya memang sulit diperkirakan. Khadafi dan keluarganya diperkirakan memiliki sekitar USD3360 miliar yang tersebar di seluruh dunia. Angka ini pun tak bisa dikonfirmasi karena tak pernah ada hitungan resmi. Kekayaan sebesar itu berasal dari minyak. Libya merupakan pengekspor minyak terbesar ke-12 di dunia.Aset sebesar itu tentu sangat menggiurkan bagi pemerintah baru, apalagi mereka membutuhkan dana besar untuk kembali membangun negerinya.
Keluarga Terpukul Keluarga mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi, yang berada di pelarian di Aljazair, tak kuasa menahan diri tatkala melihat video rekaman detik-detik akhir kehidupan orang yang mereka sayangi itu ditayangkan di televisi.
Putri tunggal Khadafi, Aisha, kemarin bahkan terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah menyaksikan tayangan seorang pemuda Libya bernama Ahmed al-Shaibani,yang mengaku merampas pistol emas Khadafi dan menembak orang yang berkuasa 42 tahun di negara itu hingga menewaskan bapak delapan anak itu. Beberapa sumber di Aljazair yang dikutip harian Al Bawaba kemarin juga menyebutkan, Aisha tambah terpukul setelah mengetahui bahwa adiknya, Mutassim, juga tewas dalam serangan yang kemudian merengut nyawa ayahnya itu.
Seperti diberitakan di mana-mana, sedikitnya empat anggota keluarga Khadafi, yaitu Safia (istri kedua Khadafi), Muhammad (putra sulung Khadafi dari istri pertamanya), Hannibal (putra ketiga Khadafi) dan Aisha (putri tunggal dan anak keempat dari Safia dan Khadafi), beserta anak-anak mereka telah melarikan diri ke Aljazair pada akhir Agustus lalu. Pelarian yang berlangsung beberapa hari setelah Tripoli dikuasai pasukan pemberontak dalam perang sipil yang dimulai sejak Februari silam.
Adapun dua putra Khadafi yang lain, Saif al-Arab dan Khamis, telah tewas sebelum ayah mereka ditangkap pada Kamis (20/10). Saif al-Arab, putra keenam Khadafi, dan tiga cucu mantan orang kuat Libya itu tewas pada 30 April lalu ketika pesawat-pesawat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membombardir Tripoli.Saat tewas Saif al-Arab adalah komandan militer Angkatan Bersenjata Libya selama perang sipil 2011. Kemudian Khamis dikabarkan tewas dalam pertempuran di kawasan tenggara Tripoli pada 29 Agustus lalu.
Pria kelahiran 27 Mei 1983 itu tewas saat mengomandoi pasukan militer elite melawan pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC). Dia tewas bersama sepupunya, Mohammed Abdullah al-Senussiputra mantan kepala intelijen Khadafi, Abdullah al-Senussi yang diburu Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC). NTC dilaporkan telah meminta ekstradisi keluarga Khadafi dari Aljazair. Permintaan itu dilontarkan Perdana Menteri sementara Libya, Mahmoud Jibril, dalam konferensi pers di Tripoli ketika mengonfirmasi tewasnya Khadafi di Sirte.
Sebelumnya penguasa baru Libya itu telah berulang kali menyeru agar Aljazair mengembalikan keluarga Khadafi. Tapi, Aljazair menolak dengan menyatakan bahwa keluarga Khadafi telah diberi suaka atas alasan kemanusiaan. Sejauh ini terpantau putra kedua Khadafi, Saadi, lari ke Nigeria. Saadi mungkin tidak sendirian lagi saat ini. Kakaknya, Saif al-Islam,telah lari dari Sirte dan masuk ke perbatasan Nigeria.
Komandan militer senior NTC Abdul Majid Mlegta kemarin memaparkan bahwa Saif al-Islam diperkirakan kabur dengan konvoi tiga kendaraan bersenjata untuk menghindari pasukan NTC di Sirte yang menewaskan ayahnya pada Kamis. "Kami mencarinya. Pejuang di kawasan itu dalam siaga tinggi,"papar Mlegta kepada Reuters.
alvin