Pada 25 September 2011 tepat 31 tahun lalu Partai Komunis China (PKC) mengeluarkan instruksi pelaksanaan "Program satu anak dari setiap pasangan suami istri" yang mulai dipelopori para anggota partainya pada 25 September 1980, dengan tujuan mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk China.
Akibat dari kebijakan ini, selama puluhan tahun lamanya terjadi kasus pengguguran secara sadis hingga mencapai 13 juta janin setiap tahunnya. Selama 31 tahun lamanya, sekitar 400 juta janin telah dibunuh.
Kebijakan tersebut juga secara serius menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di China, fenomena penuaan usia masyarakat serta serangkaian masalah sosial lainnya pun bermunculan. Meskipun masyarakat internasional terus mengecam PKC bahwa kebijakan ini sangat bertentangan dengan HAM, dan melanggar standar penerapan "kelahiran berencana" yang telah diakui oleh dunia internasional, namun hingga saat ini para penguasa PKC masih tetap menolak untuk menghapus kebijakan tersebut.
Menurut angka statistik pemerintah, jumlah aborsi di China mencapai 13 juta jiwa setiap tahunnya, dan menempati urutan pertama di seluruh dunia. Harian China Daily yang mengutip penjelasan dari pekerja medis dan survei kedokteran mengatakan, jika termasuk kasus aborsi yang belum tercatat atau kasus keguguran karena pengaruh obat-obatan, maka angka keguguran tersebut pasti akan jauh lebih tinggi.
Bagaikan Pembantaian Tiananmen Setiap 1 Jam Sekali
Sejak 1980, PKC menerapkan program satu anak untuk setiap pasangan suami istri. Lalu pada 1982 program ini dibakukan menjadi salah satu program nasional. Menurut data yang berasal dari yayasan hak perempuan Voice of A Girl yang didirikan oleh Chai Ling, mantan pemimpin gerakan Tiananmen 4 Juni 1989, saat ini seluruh Kantor Program Kelahiran Berencana PKC memiliki sekitar 300 ribu orang kepala staf, dan yang terlibat dalam penerapan program ini tercatat sebanyak 92 juta orang staf.
Pemerintah menetapkan sejumlah arahan kepada Kantor Urusan Kelahiran Berencana setiap tahunnya, bahkan memberlakukan hukuman administratif bagi departemen yang belum mampu merampungkan arahan tersebut, serta memberikan hadiah berupa materi maupun kenaikan jabatan sebagai dorongan bagi para staf yang mampu menyelesaikan arahan tersebut hingga melampaui target. Dengan kebijakan seperti ini, kasus aborsi yang terjadi di China setiap tahunnya mencapai 13 juta kasus (termasuk jumlah aborsi sukarela), atau setara dengan terjadinya pembantaian Nanjing sebanyak lebih dari 40 kali setiap tahunnya.
Dalam suatu konferensi pers yang diadakan awal tahun ini oleh Chai Ling dinyatakan, "Penerapan program satu anak secara sadis dan keji merupakan kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan. Ini merupakan pembunuhan rahasia yang tidak berperikemanusiaan terhadap ibu dan anak, atau setara dengan pembantaian dalam unjuk rasa Tiananmen setiap jamnya. Benar-benar suatu pembantaian yang berkepanjangan dan tiada henti yang telah berlangsung selama 30 tahun."
Kepala Staf Perempuan yang Sadar dari Mimpi Buruk
Nyonya Kim, seorang berkebangsaan Korea di Provinsi Jilin yang sempat menjabat sebagai kepala staf perempuan selama 2 tahun, saat menerima wawancara dari The Epoch Times menyatakan bahwa selama dua tahun, tak terhitung jumlah orang yang telah dipaksanya untuk melakukan operasi sterilisasi, dipaksa aborsi, sampai-sampai ia sama sekali tidak ingat lagi.
Nyonya Kim mengenang kembali, perempuan-perempuan itu melihat sendiri janin yang mereka kandung yang telah berusia 7-8 bulan digugurkan satu persatu dalam keadaan masih hidup. Karena janin sudah terlalu besar, tidak dapat digugurkan begitu saja dengan lancar, sehingga para perempuan yang hamil itu pun menjerit kesakitan, namun para dokter sama sekali tidak peduli akan hal itu. Jika janin keluar kepala lebih dulu, maka kepalanya akan langsung ditarik keluar dan dibelah. Jika janin sungsang dan keluar kakinya lebih dulu, maka kakinya yang ditarik lalu dipotong, keluar sebagian, dipotong lagi, begitu terus, sehingga akhirnya bayi yang seharusnya utuh, terpotong-potong menjadi bongkahan daging.
Para perempuan hamil itu ada yang kesakitan hingga pingsan. Ada yang dipaksa untuk tubektomi (proses sterilisasi perempuan dengan cara mengikat saluran telur), sebagian besar dari mereka mengalami komplikasi karenanya, dan bahkan tidak dapat lagi bekerja. Namun partai komunis tidak peduli akan semua itu, tidak ada seorang pun yang peduli terhadap hidup-mati-nya rakyat, pokoknya tidak boleh kelebihan anak.
Nyonya Kim mengatakan, ia seringkali bermimpi bertemu arwah gentayangan itu. Ia melihat roh-roh kecil yang dibantai sebelum sempat terlahir itu berada dalam keadaan yang sangat menderita, sehingga ia pun tidak berani lagi bekerja sebagai kepala staf perempuan.
Melahirkan Usia Muda Tidak Jamin Kualitas Kelahiran
Meskipun PKC mencanangkan program "Tunda kelahiran dan mengasuh anak dapat meningkatkan kualitas kesehatan bayi", namun China justru menjadi negara yang mengalami cacat lahir paling tinggi di dunia. Menurut statistik, setiap tahunnya angka kelahiran di China mencapai 13 juta jiwa, atau sekitar 10% dari total angka kelahiran di dunia yang mencapai 130 juta jiwa. Namun setiap tahunnya bayi yang lahir dengan cacat di China mencapai 20% dari total di seluruh dunia.
Para ahli menjelaskan, "Tunda kelahiran dan mengasuh anak" memang merupakan salah satu faktor penyebab tingginya angka bayi yang terlahir abnormal. Karena seiring dengan bertambahnya usia perempuan, kemungkinan mengidap penyakit rahim dan indung telur menjadi kian meningkat. Fungsi indung telur menurun, sehingga rentan terjadi kelainan pada kromosom, dan kemungkinan terjadinya kelainan pada bayi menjadi meningkat. Jumlah bayi cacat di wilayah pedesaan China telah meningkat dari 10.174% pada 1996 menjadi 14.085% pada 2006.
Sifat Spesifik Anak Tunggal
Para peneliti berpendapat bahwa dalam hal mewarisi kondisi fisik tubuh, anak tunggal tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang memiliki saudara kandung. Namun karena status anak tunggal agak istimewa dalam satu keluarga, maka akan mudah terjadi keunikan pada sifat sang anak.
Misalnya, kasih sayang dari orang tua dan kakek nenek yang berlebihan serta memanjakan anak, akan mudah membuat anak tumbuh menjadi egois, mau menang sendiri, sombong, arogan, suka tergantung pada orang tua, niat dan kemampuan untuk mandirinya kurang, kurangnya kesadaran untuk beraktivitas, tidak bisa menghormati orang lain, selalu mempertimbangkan untung rugi dirinya sendiri, sama sekali tidak bisa berempati pada orang lain, biasanya beranggapan dirinya sebagai pusat perhatian, tidak suka bersosialisasi, serta kurangnya kemampuan untuk menerima kegagalan dan lain-lain.
Penuaan Usia Penduduk China Segera Tiba
Menurut standar internasional, 10 tahun lalu populasi penduduk di China telah memasuki masyarakat usia tua, dan sekarang semakin bertambah parah. Dari hasil sensus penduduk ke-6 pada 2011 ini menunjukkan bahwa penduduk yang berusia 60 tahun ke atas mencapai 13,26% atau meningkat 2,93% dibandingkan pada 2000, dan di antaranya yang berusia di atas 65 tahun mencapai 8,87% atau meningkat 1,91%. Sementara anak usia di bawah 14 tahun telah menurun sebanyak 6,29% dibandingkan dengan jumlah total penduduk China.
Pusat Riset Masalah Internasional dan Strategi Amerika belum lama ini menerbitkan laporan sensus penduduk yang diberi judul "Rambut Putih China: Analisa Populasi dan Ekonomi Terhadap Kebijakan Jompo China", memaparkan potensi masalah yang akan terjadi akibat pertumbuhan sosial masyarakat dan ekonomi serta peralihan komposisi populasi China, yang jika tidak dipersiapkan secara matang, maka pada paruh akhir abad ini China diprediksi akan menghadapi masalah serius.
Laporan tersebut menyatakan bahwa pada 35 tahun lalu perbandingan jumlah anak-anak dengan orang tua di China adalah 6:1, dan 35 tahun kemudian yakni sekarang ini, perbandingan tersebut telah berubah drastis menjadi 1:2. Struktur populasi penduduk China sedang berubah drastis dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Jika China tidak melakukan reformasi dalam hal ini, maka di masa mendatang puluhan juta warga jompo di China akan terlilit kemiskinan karena kekurangan dana pensiun, kekurangan asuransi kesehatan, dan minimnya perhatian dari keluarga.
sumber
sumber