Antara Jokowi dan Pejabat Rakus
TERKAIT
Deddy Mizwar Dampingi Jokowi
PDIP Akhirnya Usung Jokowi
Lampu Kuning di PDIP, Lampu Hijau...
PDIP Bingung Pilih Foke dan Jokowi
Ketua KPK: Jokowi Patut Ditiru...
Antara Jokowi dan Pejabat Rakus
NAMA Joko Widodo (Jokowi) tiba-tiba melambung di tataran nasional. Bukan hanya karena munculnya mobil Esmeka bikinan siswa SMK Solo yang dipakainya sebagai mobil dinas kepala daerah, tetapi secara komulatif memang sikap Walikota ini selalu mengundang simpati publik.
Sejak dia jadi walikota, KTP gratis, pelayanan birokrasi mudah dijangkau publik, dekat dengan rakyat, sederhana dan tidak menunjukkan pejabat yang sok elitis sebagai umumnya para pejabat kita. Di saat para pejabat dan pemimpin kita mempermasalahkan gajinya rendah, justru Jokowi tidak mau mengambil gaji walikota meski tandatangan slip gaji. Uangnya disumbangkan kepada pihak yang lebih membutuhkan dibanding kaum borjuis kita.
Bahkan, Jokowi sering mengundang dan menjamu para pedagang dan rakyat biasa ke kantor Walikota untuk musyawarah dialog apabila akan memecahkan permasalahan yang menyangkut kepentingan kaum rakyat bawah. Karena dekat rakyat dan menjadi pemimpin yang amanat, maka rakyat pun mencintai walikotanya. Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Raja adil disayang rakyatnya, raja lalim dibenci rakyatnya. Begitulah kira-kira.
Makanya, warga Solo geram dan marah begitu mendengar pernyataan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyho yang menyebut Jokowi bodoh . Masyarakat Solo serempak menolak kehadiran Bibit Waluyo di Kota Solo. Sebagaimana diberitakan Tempo, Gubernur Jawa Tengah itu menilai Walikota Solo bodoh karena menolak 'ambisi' sang Gubernur membangun mall di daerah cagar budaya Solo. "Walikota Solo itu bodoh, kebijakan Gubernur kok ditentang. Sekali lagi saya tanya, Solo itu masuk wilayah mana? Siapa yang mau membangun?" semprot Bibit, jenderal bintang tiga yang mantan Pangkostrad itu.
Pernyataan keras dari Bibit itu dipicu oleh polemik pembangunan mal di bekas Pabrik Es Saripetojo Purwosari, Solo. Gubernur bersikukuh ingin mal dibangun dengan alasan tanah Saripetojo milik Pemprov Jateng. Namun, Pemkot Solo dan warga menilai bangunan itu masuk benda cagar budaya (BCB) sehingga tidak bisa dibongkar begitu saja.
Kalau melihat pernyataan dan permasalahan yang di angkat bahwa Bibit ingin membangun mal tersebut, di daerah Solo sudah sangat banyak mal-mal yang berdiri di daerah ini mengapa harus mendirikan mal lagi? Apakah disini ada unsur rencana penggelapan dana untuk proyek pembangunan mal? dan kenapa Bibit ingin membangun mal di daerah Solo?
Pernyataan Gubernur itu mendapat kritikan keras dari kalangan masyarakat Solo. Forum Komunikasi Masyarakat Surakarta (FKMS) menyerukan empat pernyataan sikap terkait pernyataan Gubernur Bibit Waluyo yang membodohkan Walikota Solo, Jokowi. FKMS menyatakan mosi tak percaya atas kepemimpinan Bibit Waluyo sebagai Gubernur Jateng. "Bibit sebagai seorang Gubernur terbukti tak paham aturan hukum. Maka, kami menyatakan mosi tak percaya," tegas Agus Anwari, perwakilan FKMS, beberapa waktu lalu.
Namun, menanggapi pernyataan Gubernur tersebut, Jokowi mengaku ikhlas. Walikota Solo dua periode ini bahkan dengan rendah hati mengatakan pernyataan Gubernur Jateng itu mungkin memang ada benarnya. "Ya memang kenyataanya saya itu bodoh. Saya masih harus belajar banyak," kata Jokowi kepada wartawan."Saya memang bodoh. Dan heran saya, kenapa orang Solo memilih orang bodoh macam saya untuk jadi Walikota dua periode," tambahnya merdendah.
Masyarakat pun berkomentar, kalau Walikota Jokowi bodoh tidak mungkin bisa memindahkan 989 PKL Banjarsari ke tempat yang baru tanpa kerusuhan, kemudian mendapat banyak penghargaan. Memang, tentunya banyak yang 'iri' dan sirik terhadap sikap Jokowi yang merakyat dan relatif jujur. Apalagi bagi kepala daerah yang korup dan elitis tentu sangat sinis dengan Walikora Solo yang menjadi pujaan rakyatnya.
Kini, Jokowi memakai mobil nasional produksi dalam negeri karya anak bangsa sebagai mobil dinas walikota. Kendaraan bikinan siswa SMK ini bermesin 1.5i,1.500 cc multi point injection 4 silinder. Kendaraan ini dibekali sederet fitur elektronik mirip SUV premium lainnya, misalnya power teering, central lock, power windows, AC dual zone, sensor parking, hingga head unit CD player. Mobil yang dirakit oleh para pelajar SMK dengan Kiat Motor yang menggunakan komponen 80 persen buatan lokal dan 20 persen impor. Mobil yang bermerk Kiat Esemka itu berjenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan dibandrol dengan harga Rp95 juta.
Sosok Walikota Solo ini pun mendapat apresiasi dari DPR. Bahkan, sosok seperti Jokowi diharapkan bemunculan.Wakil Ketua DPR RI Anis Matta dari PKS memuji mobil Kiat Esemka hasil karya siswa SMK di Solo. Untuk itu DPR perlu menindaklanjuti hasil ini dengan meninjau langsung mobil tersebut guna memastikan apakah mobil ini layak diangkat sebagai produksi nasional. Bahkan, Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan kekagumannya dan mendukung mobil Kiat Esemka buatan anak-anak SMK tersebut dan akan mendorong karya anak bangsa itu agar menjadi mobil yang diproduksi secara nasional. Presiden SBY, Menteri dan kalangan Anggota DPR pun menyatakan dukungannya terhadap Jokowi yang menjadi mobil Esmeka sebagai mobil nasional.
Sebagai pejabat pemerintah, Jokowi banyak melakukan hal positif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Misalnya penggusuran pasar, tidak lagi dengan kekerasan. Satpol PP yang digunakan pemda untuk menertibkan kota, diberi seragam khas masyakarat Solo. Sehingga Satpol PP tidak menyeramkan sekaligus menjadi momok. Hasilnya penertiban apapun yang dilakukan di Solo berjalan damai, sesuatu yang membuat masyarakat merasa hidup tidak terbebani.
Yang paling baru, Jokowi memberi dorongan dan apresiasi kepada siswa-siswa dari sebuah sekolah kejuruan di Solo yang berhasil merakit mobil murah. Cara Jokowi yaitu secara spontan menerima hadiah mobil dari para siswa untuk menjadikannya sebagai kendaraan dinas. Bagi masyarakat kota Solo sendiri, kredibilitas dan kapabilitas Jokowi sudah tidak mereka ragukan lagi. Sebab Jokowi sudah kedua kalinya dipilih sebagai Walikota Solo. Yang signifikan dari keterpilihannya yaitu suara rakyat Solo yang diberikan kepada Jokowi dalam Pilkada periode kedua, nyaris sempurna. Yaitu mencapai 96%.
Rakyat Indonesia saat ini merasakan adanya kekosongan pemimpin yang bisa diteladani. Rakyat merindukan sosok pemimpin seperti Jokowi. Maklum, para pemimpin di eksekutif, legislatif dan yudikatif sekarang, terus berlomba melakukan korupsi, pembohongan kepada publik dan memprioritaskan kepentingan pribadi. Mereka tidak bisa menjadi tauladan akibat berkelakuan kampret dan sontoloyo. Semoga kini, para pejabat dan pemimpin bertobat dan tertular pribadi Jokowi. Semakin banyak Indonesia memiliki tokoh fenomenal seperti Jokowi, semakin baik bagi masa depan bangsa.
Bahkan, Ketua DPP Partai Hati Nurani Rakyat Yuddi Chrisnandi secara terbuka, melalui akun twitternya memberikan dukungan terhadap Joko Widodo sebagai Calon Presiden dalam Pemilu 2014 mendatang. "Andai PDI perjuangan visioner, calonkan Joko Widodo sebagai capres 2014, beri dukungan penuh, saya pribadi menyokongnya untuk kebaikan Indonesoa, bisa menang," demikian tulis bekas politikus Partai Golkar di akun Twitternya itu pada 3 Januari 2012.
Jokowi juga teruji dalam persinggungan menyelesaikan persoalan di akar rumput. Seperti saat merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari yang nyaris tidak ada gejolak antara pemerintah kota versus pedagang. Jokowi juga memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka yang disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat.
Jokowi pemimpin yang konsisten. Dia tidak menebar dan melakukan pencitraan, melainkan kerja nyata dan memberikan bukti. Banyak pejabat juga berbusa-busa berteriak agar menggunakan produk dalam negeri, tetapi mereka sendiri sedang memakai produk impor. Bahkan, banyak pejabat yang melakukan kebijakan impor demi upeti yang masuk kantong.
Sumber awal pengembangbiakan bibit korupsi aparat birokrasi sebenarnya bisa diselidiki. Kalau kourpsi aparat eksekutif dimuai dari penerimaan pegawai negeri sipil yang dipungut uang suap puluhan hingga ratusan juta sehingga mereka berupaya untuk mendapat ganti saat sudah menjadi PNS, demikian juga polisi. Kalau sumber menjalarkan korupsi di legislatif, sebenarnya dimulai dari ketua umum partai politik (parpol). Apalagi, saat pemilihan ketua umum parpol, hamoir semua menggunakan money politics. Ini tidak usah dibantah dan dipungkiri lagi, kecuali kaum pembohong.
Selain itu, saat menjadi calon anggota legislatif, kader partai yang bersangkutan dikutip uang 'pelicin' ratusan juta hingga miliaran rupiah, sehingga saat menjadi anggota legilatif lebih berat mencari uang untuk mengembalikaan modalyang dipakai menjadi anggota DPR/DPRD, ketimbang memikirkan kepentingan rakyat. Akibatnya pengawasan pun tidak sesuai aspirasi rakyat. Pada akhirnya eksekutif pun tidak takut dengan pengawasan legislative karena bisa diatur alias wani piro?,
Jokowi sebagai figur pemimpin masa depan, di saat rakyat muak dengan banyaknya pemimpin sontoloyo, politisi busuk dan pengusaha hitam, serta antek asing di Indonesia, kapitalis brengsek dan neolib tengik. Kalaupun kini ada usulan agar Jokowi dijadikan calon presiden (capres) maka hal itu hanya sekedar pelontaran tauladan saja. Maksudnya kalau ada capres hendaknya memiliki sifat yang positif seperti Walikota Solo ini, pemimpin yang sederhana dan tidak serakah. (***)
Sumber:
http://www.jakartapress.com/detail/r...-pejabat-rakus