Modali Calegnya Rp 5-10 M, NasDem Dinilai Kejar Popularitas di Daerah Sabtu, 09/06/2012 16:15 WIB
Jakarta Partai Nasional Demokrat memberikan bantuan dana kampanye sebesar Rp 5-10 miliar kepada calon legislatornya. Program insentif yang merupakan implikasi sistem politik berbasis electoral multipartai ekstrim itu, dibuat untuk siasati rendahnya popularitas di daerah. "Karena berbasis electoral, maka menjadi penting bagi caleg mempunyai modal untuk membangun popularitas melalui kampanye di daerah pemilihannya," kata Burhanudin Muhtadi, pengamat politik dari LSI kepada detikcom, Sabtu (9/6/2012).
Rumus bagi seorang caleg memperbesar peluang elektabilitasnya adalah iklan yang gencar di media massa ditambah strategi kampanye yang masif. Kegiatan tersebut tentu saja membutuhkan sumber daya besar yang belum tentu dimiliki oleh caleg bersangkutan meski dirinya adalah tokoh masyarakat yang populer di daerahnya. Celah tersebut yang dilihat petinggi NasDem sebagai peluang mendongkrak elektabilitasnya secara nasional sebagai parpol baru yang belum mempunyai basis massa sekuat PDIP, Golkar dan partai besar lainnya. Bukan rahasia bahwa untuk urusan sebaran iklan di tingkat nasional, NasDem tidak menghadapi kesulitan sebab mempunyai jaringan media massa yang luas.
Tapi di tingkat lokal yang merupakan unjung tombak perolehan suara, NasDem belum memiliki jaringan yang dapat diandalkan. Di dalam keperluannya mendongkrak elektabilitasnya di daerah, NasDem memodali caleg-calegnya menggencarkan kampanye di daerah pemilihan masing-masing. "Jadi untuk sapuan nasional melalui iklan di media massa dan sapuan lokal mengandalkan modal besar sehingga calegnya lebih mengakar di masyarakat," analisa Burhanudin Muhtadi.
http://news.detik..com/read/2012/06/...ah?nd992203605 Ferry Baldan: Modal Rp 5-10 M untuk Rekrut Caleg Nasdem Berkualitas Sabtu, 09/06/2012 09:54 WIB
Jakarta Ketua Bappilu Partai Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengungkapkan pemberian modal kampanye Rp 5-10 miliar untuk caleg Nasdem adalah bagian dari strategi partai baru ini. Tujuannya untuk merekrut caleg berkualitas. "Tentang pemberian biaya Rp 5-10 miliar pembiayaan bagi caleg Partai Nasdem dalam berkampanye, bukan pemberian dalam bentuk cash kepada para caleg. Sesungguhnya rencana seperti itu bukan dalam bentuk pemberian uang semata, tapi itu adalah rangkaian strategi Partai Nasdem untuk bisa merekrut calon-calon berkualitas," kata Ferry kepada detikcom, Sabtu (9/6/2012).
Dalam kajian Partai Nasdem, menurut Ferry, kesan adanya biaya tinggi dan mahalnya untuk menjadi pejabat publik termasuk jadi caleg, telah menjadi rahasia umum. Sehingga hal ini menimbulkan kesan, bahwa tidak mungkin bisa jadi caleg jika tidak memiliki uang miliaran rupiah. "Kondisi atau penilaian seperti ini sungguh amat memprihatinkan Partai Nasdem, dimana posisi kapabilitas, kualitas, integritas dan modal sosial harus ditempatkan ? Jika itu yang terjadi, semakin menguatkan kesan, bahwa bahwa kursi parlemen bisa dibeli, meski tidak langsung," ungkap Ferry.
Melihat kondisi itu, lanjut Ferry, maka sebagai partai yang mengusung tagline 'Gerakan Perubahan', maka Partai Nasdem melakukan kajian, bahwa pengembalian fungsi parlemen harus dilakukan dengan memulai menempatkan figur-figur yang berkualitas, berintegritas dan berkapabilitas. "Dalam kaitan itu strategi yang ingin diterapkan adalah dengan melakukan metoda 'talent scotting' untuk mendapatkan figur-figur seperti yang diharapkan," ungkapnya.
Agar Partai Nasdem berhasil mendapatkan figur seperti yang diharapkan, tambah Ferry, maka Partai Nasdem merasa punya tanggung jawab untuk membantu figur yang berkapasitas. Dan jika, dalam kegiatan tersebut ada biaya yang dibutuhkan, maka Partai Nasdem tidak akan membiarkan caleg-caleg tersebut kekurangan biaya. "Jadi strateginya adalah, dalam rangka memaknai 'gerakan perubahan' dengan melakukan langkah yang menjauhkan proses rekruitmen dari praktek transaksional. Ini menjadi upaya Partai Nasdem untuk melakukan sumbangsih bagi perbaikan negeri. Karena jikapun diberikan biaya Rp 5-10 miliar, atau berapa besarpun, tidak akan menghasilkan perbaikan dan perubahan, jika besaran itu dimaknai sekedar sebagai 'kebaikan' partai pada caleg," kilahnya.
"Malah bisa saja, besarnya dana tersebut, mendatangkan pikiran lain. Atau jika besaran dana ansich, bukankah akan mendatangkan keraguan baru ? Karena sejatinya rakyat butuh integritas, kualitas dan kapabilitas untuk perbaiki negeri ini. Jadi semangat yang disampaikan oleh Partai Nasdem adalah ingin mengisi lembaga perwakilan dengan figur-figur yang berkualitas dan berintegritas, sebagai bagaian dr strategi benahi negeri," tandasnya.
http://news.detik..com/read/2012/06/...as?nd992203605 --------------
Kalau hitung-hitungan diatas kertas, dana "pinjaman" NASDEM ke calon Legislatornya itu, jelaslah tidak gratis. Mana ada makan siang gratis? Apalagi dalam dunia politik. Dan itu kelihatannya adalah dana talangan sementara, yang nanti bila calon Legislator itu lolos ke DPR, maka anggota ybs jelas harus mencicilnya ke NASDEM. NASDEM cukup bijak melihat kebutuhan dana untuk calon Legislatornya itu, yang jelas cukup mahal untuk 2014 nanti.
Sekretaris Fraksi PKS di DPR pernah bilang, untuk menjadi Legislator 2014 kelak, minimal harus disiapkan uang Rp 2-M sebagai uang maha saja. Itu duit wajib yang akan disetor ke partai saja. Padahal, untuk meraih simpati pemilih kelak, diperlukan dana yang cukup besar, termasuk operasai 'serangan fajar' tentunya. Total biaya untuk itu sekitar Rp 3-5 miliar per anggota Legislatif. Makanya kebutuhan mereka memang berkisar antara 5 sampai 10 miliar per orangnya, ergantung wilayah dan jumlah penduduk setempat. Legislator di Jawa jelas lebih mahal dan lebih banyak kebutuhan dananya ketimbang di Luar Jawa.
Selama ini sang calon Legislator biasanya meronggoh kantongnya sendiri untuk bisa memenuhi kebutuhan dana kampanyenya menjelang Pemilu itu. Kalau tabungan dan hartanya masih kurang, jelas calon Legislator itu harus berutang ke rentenir atau Bank Titil dengan bunga sangat tinggi. Ada pula cukong yang bersedia membiayai sepenuhnya si calon Legislator itu, tapi syaratnya kalau kelak masuk Senayan, dirinya menjadi 'hamba sahaya' si Cukong itu.
NASDEM jelas memahami itu, sebab elitnya adalah mantan elit GOLKAR yang terusir oleh Ical di masa lalu. Kini diduga kuat peran Cukong, Rentenir dan Bank itulah yang tampaknya akan diambil alih oleh NASDEM. NASDEM menjadi 'company' yang akan menalangi semua kebutuhan dana kebutuhan kampanye itu sampai ybs lolos ke Sensayan. Lalu ada berapa banyak dana yang dibutuhkan NASDEM untuk para Legislatornya itu? Kagak banyak-banyak amatlah! Katakanlah target NASDEM akan memperoleh maksimal 100 kursi (itu artinya sama dengan kemenangan suara Pemilu sekitar 20% suara pemilih), maka 'dana talangan' hanya berkisar antara Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun saja, atau kalau di kurs ke dollar, hanya berkisar antara US$ 50 juta sampai US$ 100 juta saja. Duit segitu tidaklah banyak, apalagi kalau ada 'Donatiur Asing" yang berani meminjaminya, dengan syarat-syarat tertentu pada pihak NASDEM itu. Donator seperti itu bisa dari orang berduit di dalam negeri, atau cukong dari luar negeri seperti dari Singapore misalnya. Atau lebih jauh sedikit, China atau AS misalnya. Siapa tahu?