SBY: Ada Parpol Lain yang Lebih Korup! KAMIS, 14 JUNI 2012 | 07:42 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, partainya seharusnya tidak terus-terusan menjadi bulan-bulana media dalam pemberitaan tersangkut korupsi. Nyatanya, dalam data yang dimiliki Demokrat, masih banyak kader partai lain yang terlibat korupsi. "Masih banyak partai politik yang kasus korupsinya lebih di atas Demokrat," kata SBY saat membuka Forum Silaturahmi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Rabu, 13 Juni 2012.
Menurut SBY, data itu diperoleh dari beberapa sumber terpercaya. Kesimpulannya kata SBY banyak partai lain yang kasus korupsinya lebih besar tetapi tidak gencar diberitakan media. "Lebih dari setahun media massa dibanjiri berita oknum kasus partai Demokrat, sedangkan oknum partai lain tidak segencar itu, pemberitaan ini mendiskreditkan Demokrat," kata SBY.
Dia membeberkan, untuk kasus korupsi di jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinisi, dalam periode 2004-2012, oknum kader Demokrat yang melakukan korupsi hanya menduduki peringkat kelima yakni 3,9 persen. Di atas Partai Demokrat, ada empat partai lain yang persentasenya mencapai 34,6 persen, 24,6 persen, 9,2 persen, dan 5,2 persen. "Total angka mereka 75 persen, bandingkan dengan Demokrat yang hanya 3,9 persen," ujar SBY. Meski begitu, SBY menegaskan, partainya tetap tidak boleh mentolerir angka korupsi 3,9 persen yang dilakukan kader Demokrat.
Di tingkat kabupaten dan kota, pada periode sama kader Demokrat yang terlibat kasus korupsi mencapai 11,5 persen. Namun, lagi-lagi masih ada partai di atas Demokrat yang angka korupsinya lebih besar. Ada partai yang korupsi sejumlah 11,5 persen, 27 persen dan 14,4 persen. Sedangkan untuk korupsi di tingkat menteri, anggota DPR, gubernur, bupati dan walikota, menurut SBY kader Demokrat terlibat dengan presentasi 8,6 persen. Di atasnya masih ada dua parpol dengan angka 33,7 persen dan 16,6 persen. "Adilkah kalau dengan data ini Partai Demokrat dianggap partai korup sedang partai lain yang di atas kami dianggap partai bersih." kata dia.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...in-Lebih-Besar
SBY Klaim Korupsi Demokrat Kecil Dibanding Parpol Lain Kamis, 14 Juni 2012 | 03:16
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono berkilah tidak hanya partainya yang terlibat kasus korupsi. Bahkan, dirinya membela diri dengan mengatakan korupsi yang dilakukan PD terhitung kecil jika dibandingkan dengan partai politik lainnya. Menurut SBY, dari sumber-sumber yang sah, pada kasus korupsi DPRD provinsi tahun 2004-2012, ada 3.9 persen oknum PD yang melakukan tindakan korupsi.
Angka ini menempati peringkat kelima dengan presentase empat partai lainnya, peringkat pertama 34.6 persen, 24.6 persen, 9.2 persen dan, 5.3 persen. "Total angka mereka (parpol) berempat 75 persen. Bandingkan dengan Demokrat 3.9 persen meski hal itu tidak bisa ditolerir," ujarnya saat membuka Silaturahim Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (13/6) malam. Selain itu pada kasus korupsi DPRD tingkat Kabupaten/Kota tajun 2004-2012 oknum Demokrat yang melakukan korupsi sebanyak 11.5 persen, urutan ketiga setelah dua parpol dengan tindak korupsi 27 persen dan 14.4 persen.
Sedangkan untuk korupsi pada tingkat menteri, DPR RI, gubernur, bupati dan walikota Demokrat juga di urutan ketiga dengan 8.6 persen, di bawah dua partai politik yang melakukan 33.7 persen dan 16.6 persen.
Ia tidak menyebutkan nama-nama partai politik tersebut. Ia merasa PD mengalami pemberitaan yang tidak adil, dibandingkan dengan partai lainnya. Oleh karena itu, ia meminta kepada seluruh kader untuk konsisten dalam memberantas kasus korupsi. "Untuk urusan korupsi, PD tidak akan melindungi anggotanya jika terbukti terlibat korupsi. Jika terbukti bersalah, anggota DPR dan DPRD langsung ada pergantian antar waktu," katanya. Jika partai terus menunjukkan sikap mendukung penegakkan hukum, rakyat akan mengetahuinya.
http://www.beritasatu.com/nasional/5...rpol-lain.html -------------
Kalau dalam bahasa jawa, tingkat mencuri itu di buat dengan berbagai "istilah" bahasa. - Kalau mencurinya bernilai kecil, dinamakan "ngentit".
- Kalau mencurinya sekedar iseng, dinamakan "ngutil".
- Kalau mencurinya senilai untuk makan sehari keluarganya, dinamakan "maling".
- Kalau mencurinya main kasar dan kekerasan, disebut "ngerampok"
- Kalau mencuri duit rakyat atau Negara, disebut "pengkhianat" atau "koruptor".